marioqq 6 Fakta Kafein Dalam Matcha Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas matcha meningkat pesat. Tak hanya di Jepang sebagai negara asalnya, tapi juga di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Minuman dan makanan berbahan dasar matcha hadir dalam beragam bentuk dari latte, soft serve, hingga mi dan dessert.

Apa yang membuat matcha begitu di gemari? Selain rasanya yang unik, banyak orang tertarik karena kandungan nutrisinya. Matcha di kenal mengandung antioksidan tinggi, membantu fokus, mengurangi stres, hingga di percaya bisa memperlambat penuaan.
Namun, satu pertanyaan penting masih sering muncul, apakah matcha mengandung kafein? Jika iya, apakah minuman ini sehat atau justru berbahaya bila di konsumsi secara rutin? Berikut fakta penting tentang kandungan kafein dalam matcha dan dampaknya bagi kesehatan!
1. Matcha mengandung kafein, tapi tidak sebanyak kopi

marioqq 6 Fakta Kafein Dalam Matcha Meski berasal dari teh hijau, matcha mengandung kafein. Perbedaannya dengan teh hijau biasa terletak pada cara penyajiannya, jika teh hijau di seduh dari daun, matcha di buat dari daun teh hijau yang di giling halus dan di konsumsi seluruhnya.
Menurut Kristina Tucker, Chief Communications Officer dari The Republic of Tea, secangkir matcha dapat mengandung sekitar 30 hingga 60 mg kafein, tergantung pada cara penyajiannya. Bandingkan dengan kopi yang bisa mencapai 95–200 mg kafein per 8 ons cangkir. Artinya, matcha tetap memberikan efek stimulan seperti kopi, tetapi dalam dosis yang lebih ringan.
2. Efek kafein dari matcha lebih stabil berkat L-theanine

ilustrasi membuat minuman matcha (pexels.com/Anna Pou)
L-theanine bekerja sinergis dengan kafein untuk meningkatkan fokus, tanpa menyebabkan rasa gelisah yang biasanya muncul setelah minum kopi. Dengan kata lain, matcha adalah solusi bagi yang ingin tetap produktif tanpa efek “crash” atau rasa lelah mendadak setelah efek kafein habis.
3. Kandungan kafein dalam matcha lebih tinggi dari teh hijau biasa
Salah satu keunikan matcha di bandingkan sumber kafein lain seperti kopi atau minuman energi adalah efeknya yang lebih ramah di tubuh dan tahan lama. Kristina Tucker menjelaskan bahwa meskipun kafein pada matcha lebih sedikit, kandungan L-theanine, sejenis asam amino alami di dalamnya, membuat efek yang di hasilkan terasa lebih tenang dan tidak membuat jantung berdebar.

Meski sama-sama berasal dari daun teh hijau, kandungan kafein matcha lebih tinggi di banding teh hijau biasa. Ini karena saat meminum matcha, kita mengonsumsi seluruh daun teh yang di giling, bukan hanya air seduhan dari daunnya.
Menurut data, 1 gram bubuk matcha mengandung antara 18,9 hingga 44,4 mg kafein, sementara secangkir teh hijau biasanya hanya memiliki sekitar 30–50 mg kafein. Artinya, dalam porsi yang sama, matcha dapat memberikan lebih banyak energi. Namun, karena kafein dalam matcha di serap lebih lambat oleh tubuh, efeknya terasa lebih bertahap dan stabil di bandingkan teh biasa atau kopi.
4. Konsumsi berlebihan tetap bisa menyebabkan efek samping

Seperti halnya semua hal baik, konsumsi matcha tetap harus dalam batas wajar. Menurut pakar teh Rocco Falcone, konsumsi matcha yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan lambung karena kandungan kafeinnya.
Ia menyarankan batas konsumsi yang aman adalah sekitar 2–3 cangkir per hari. Bagi perempuan hamil atau menyusui, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengonsumsi matcha secara rutin. Falcone juga mengingatkan bahwa karena kafein dalam matcha bisa bertahan di tubuh selama 6 hingga 8 jam, orang dengan gangguan tidur atau kecemasan sebaiknya tidak minum matcha setelah siang hari.
5. Bisa di kurangi kafeinnya, asal tahu triknya

Kalau kamu termasuk yang sensitif terhadap kafein tapi tetap ingin menikmati matcha, tenang saja kamu masih bisa menikmatinya dengan cara yang tepat. Ada beberapa langkah mudah yang bisa membantu menurunkan kadar kafein dalam matcha. Salah satunya adalah dengan menggunakan sedikit bubuk matcha agar kandungan kafeinnya tidak terlalu tinggi.
Kamu juga bisa menambahkan susu atau oat milk untuk mengencerkan kandungan kafein dan memberikan rasa yang lebih lembut. Selain itu, mencampur matcha dengan bahan tambahan seperti jahe atau chia seed juga bisa menjadi pilihan. Cara-cara ini tidak hanya membantu mengurangi jumlah kafein yang masuk ke tubuh, tetapi juga menciptakan rasa yang lebih unik.
6. Kualitas matcha berpengaruh pada kandungan kafein

Kandungan kafein dalam matcha bisa bervariasi tergantung kualitas daun teh yang di gunakan dan cara pengolahannya. Matcha berkualitas tinggi (sering di sebut ceremonial grade) biasanya berasal dari daun teh muda yang memiliki kadar kafein dan L-theanine yang lebih tinggi. Sementara matcha kualitas rendah (culinary grade) bisa mengandung lebih sedikit L-theanine dan rasa yang lebih pahit.
Sebaliknya, matcha latte kemasan yang di jual di kedai kopi sering kali hanya mengandung sedikit matcha asli, tapi tinggi gula tambahan dan perisa buatan. Untuk mendapatkan rasa manis, lebih baik tambahkan madu secukupnya.
Jadi, apakah kafein dalam matcha sehat atau berbahaya? Jawabannya bergantung pada jumlah konsumsi, sensitivitas tubuh, dan kualitas matcha yang di gunakan. Jika kamu mengonsumsinya dalam jumlah yang tepat maka tubuhmu menerima dengan baik.

























































































































































































































































































































































































































Leave a Reply