Kleptomania merupakan salah satu gangguan kontrol impuls yang membuat seseorang secara berulang terdorong untuk mencuri barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Berbeda dari pencurian biasa, tindakan ini bukan didorong oleh motif ekonomi, melainkan oleh dorongan psikologis yang muncul secara tiba-tiba. Akibatnya, penderita sering merasa bersalah setelah mencuri, namun tetap kesulitan menghentikan kebiasaan tersebut.
Apa Itu Kleptomania?
Secara umum, kleptomania adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan menahan dorongan untuk mengambil barang tanpa izin. Biasanya, barang yang dicuri memiliki nilai kecil, bahkan sering kali tidak di gunakan. Meski demikian, dorongan mencuri memberi rasa lega sesaat, lalu memunculkan rasa malu atau penyesalan setelahnya.
Dengan kata lain, kleptomania bukan bentuk kejahatan, melainkan masalah kesehatan mental yang perlu ditangani secara tepat.
Penyebab Kleptomania
Hingga saat ini, para ahli belum menemukan penyebab pasti kleptomania. Meskipun begitu, beberapa faktor berikut diyakini berkontribusi terhadap munculnya kondisi ini:
1. Ketidakseimbangan Kimia Otak
Pertama, gangguan pada neurotransmitter seperti serotonin dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan impuls. Ketika serotonin rendah, seseorang lebih mudah melakukan tindakan impulsif, termasuk mencuri.
2. Respons Otak terhadap Rasa Tegang
Selanjutnya, sebagian penderita mengalami dorongan mencuri karena otaknya mencari pelepasan ketegangan. Tindakan mencuri memberikan sensasi lega atau euforia singkat, sehingga otak mencoba mengulanginya.
3. Riwayat Trauma atau Stres
Selain itu, pengalaman masa lalu seperti kehilangan, kekerasan, atau tekanan emosional berat dapat memperburuk kemampuan mengontrol diri. Akibatnya, dorongan mencuri muncul sebagai bentuk pelarian.
4. Kondisi Psikologis Lain
Kleptomania juga sering muncul bersamaan dengan kondisi lain, misalnya depresi, kecemasan, gangguan bipolar, atau gangguan obsesif-kompulsif. Kombinasi ini membuat kontrol diri semakin melemah.
Pengobatan Kleptomania
Mengingat kleptomania termasuk gangguan mental, penanganannya harus di lakukan secara profesional. Berikut beberapa metode yang umumnya digunakan:
1. Psikoterapi
Terapi perilaku kognitif (CBT) menjadi pendekatan utama. Terapis akan membantu pasien mengidentifikasi pemicu, mengubah pola pikir negatif, dan mengendalikan dorongan mencuri. Selain itu, teknik seperti desensitisasi dan latihan penggantian perilaku juga sering di terapkan.
2. Terapi Obat
Dalam beberapa kasus, dokter dapat memberikan obat untuk membantu menstabilkan emosi dan mengurangi impuls. Obat antidepresan atau pengatur perilaku impuls biasanya di gunakan, sesuai hasil evaluasi medis.
3. Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Selain perawatan profesional, dukungan emosional dari keluarga sangat penting. Dengan lingkungan yang memahami kondisi ini, penderita dapat lebih tenang dan termotivasi untuk pulih.
4. Manajemen Stress
Karena stres dapat memperburuk dorongan impulsif, penderita biasanya diarahkan untuk menerapkan latihan relaksasi, seperti meditasi, pernapasan teratur, atau olahraga ringan.
Kesimpulan
Singkatnya, kleptomania adalah gangguan kontrol impuls yang membuat seseorang sulit menahan dorongan untuk mencuri, meskipun ia tidak membutuhkan barang tersebut. Kondisi ini di pengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakseimbangan kimia otak hingga riwayat stres. Meskipun demikian, kleptomania dapat ditangani melalui psikoterapi, obat-obatan, serta dukungan lingkungan.
Apabila kondisi ini tidak di tangani, masalah dapat berkembang dan memengaruhi hubungan, pekerjaan, hingga kualitas hidup. Oleh karena itu, mencari bantuan profesional adalah langkah terbaik untuk memulai proses pemulihan.







































































































































































































































































































































































































































































































































































































































Leave a Reply